[Review Buku] Goosebumps #34: Pembalasan Kurcaci Ajaib By R.L. Stine


GoosebumpsTM: Revenge of The Lawn Gnomesby R.L. StinePenerbit Gramedia Pustaka UtamaAlih Bahasa by Hendarto SetiadiCetakan ke-5; November 1999; 160 hlmRate 4 of 5
ADA YANG MENGENDAP-ENDAP DI KEBUNKU! Ayah Joe Burton gemar sekali pada hiasan kebun. Begitu banyak hiasan di kebunnya, sehingga tanaman-tanamannya sendiri tidak kelihatan. Terakhir, ia membeli dua patung kurcaci bertampang jelek. Sejak itulah terjadi hal-hal aneh. Setiap malam. Saat semua orang sudah terlelap. Ada yang mengendap-endap di kebun, mencoret-coret mobil, meyiramkan cat ke dinding, meremukan buah-buahan. Juga tawa cekikikan dan bisik-bisik parau di tengah kegelapan malam. Tidak mungkin kedua patung kurcaci itu pelakunya, bukan? Atau benarkah setiap malam mereka hidup? Joe mendapat masalah ketika ia menjadi tersangka utama untuk segala kekacauan yang terjadi pasca dibelinya dua buah patung hiasan kurcaci. Melon mr. McCall hancur, melon dicoret-coret dan parahnya mobil Mr. McCall pun terkena sasaran cat dinding. Joe yakin ada sesuatu yang tidak beres pada kurcaci tersebut. Ia sering mendapati ekspresi wajah kurcaci itu berubah-ubah dan mendengar mereka berbisik-bisik.
Tapi siapa yang akan percaya?
Orangtuanya lelah dan menghukum Joe untuk perbuatannya tersebut. Hingga akhirnya ia bertekad untuk menangkap basah kedua kurcaci tersebut saat tengah malam bersama temannya, Moose.
Kedua anak tersebut bertekad akan mencari tahu apa yang terjadi. Hingga tengah malam berlalu pun kurcaci tersebut tetap diam pada tempatnya. Tapi betapa kagetnya mereka ketika kurcaci itu bangun dan mendapati persembunyian Joe serta Moose. Dengan langkah kakinya yang pendek-pendek kurcaci tersebut menerkam salah satu di antara mereka.
Dan kini mau tidak mau mereka percaya, bahwa patung kurcaci penghias taman mereka, hidup.
Benar-benar hidup.
***

Satu hal yang menurut aku gak cocok di novel ini adalah judul dan isinya. Judulnya Indonesiannya “Pembalasan Kurcaci Ajaib” tapi disini gak ada kisah yang berhubungan dengan pembalasan. Tapi jangan salah, novel ini tetap bikin tegang saat kurcaci itu beneran hidup. Tapi petualangan ketiga anak tersebut─Joe, Mindy, dan Moose─ saat menghadapi kurcaci juga gak kalah seru.
Gemes sih sama si Joe yang suka becanda. Jadi pas dia usaha banget pengen kasih tau ke orang-orang kalau kurcaci di tamannya itu hidup, gak ada yang percaya. Untung ada di Moose yang mau di ajak Joe untuk ngebuktikan kalau kurcaci itu beneran hidup.
Aku suka sama adegan setelah mereka ketahuan sama kurcaci. Gak nyangka bakal gitu kejadiannya. Kirain ada terlibatnya manusia-manusia lain juga. Rupanya gak. Kali ini khusus petualangannya untuk Joe, Mindy dan Moose.
Yang paling aku suka dari ending novel ini adalah bersatunya kakak-beradik yang selalu bertengkar. Rasanya dibalik kejadian yang baru mereka alami ada hikmah sendiri buat hubungan mereka.
Nilai baik yang ada dalam buku ini adalah jangan suka bercanda keterlaluan. Mungkin lucu sih kalau belum kena batunya, tapi kalau udah kena batunya, baru tahu rasa. Rasanya nyesekin kalau apa yang kita bilang tapi gak ada yang percaya.
Buku ini aku rekomendasikan banget untuk semua usia, terutama pecinta horor sejati ^^ Kalau anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar, ada baiknya di dampingi orang tua. Karena menurut aku, nilai-nilai yang ada dalam buku ini bagus untuk di bahas bersama mereka. “Joe, kalau becanda jangan keterusan,” Mom berkata ketus. “Lama-lama semua orang jadi bosan. Lelucon kurcaci itu tidak lucu. Sama sekali tidak lucu.” – hal 68 ***Tulisan in diikutsertakan dalam:Read at Your Own Risk Challenge 2016